Oleh: Dwi Rezki Hardianto (Demisioner Presiden Mahasiswa BEM UNM Periode 2018-2019 dan Alumni Mahasiswa Magister Sastra FIB UGM).

Tanggapan atas tulisan Prof. Qasim Mathar dan Prof. Mustari Mustafa

Kabarnusantaranews,Maros;– Sejak tulisan Prof. M. Qasim Mathar yang berjudul “HMI Sudah Tiada” muncul di kolom Jendela Langit, tentunya memantik banyak respon publik, khususnya kader HMI.

Respon itu beragam, ada yang meresponnya dengan darah mendidih, ada yang bersepakat, ada juga yang meresponnya dengan tulisan kritis, bahkan ada yang tidak ingin meresponnya. Bentuk terakhir itu juga saya anggap sebagai respon, yaitu merespon dalam diam.

Lalu apa yang membuat publik dan kader HMI pada khususnya merespon itu? Dalam tulisan sang profesor, ada dua poin yang saya tangkap sebagai wacana yang dianggap menandai kematian subjek HMI.

Yaitu keterpecahan HMI dan justifikasi kader HMI mengeneralisasi kader yang aktivitasnya berada di seputaran meja warkop dengan foto ber-selfie. Kedua poin itu dianggapnya sebagai citra ketiadaan HMI.

Sebagai implikasinya, saya melihat justifikasi itu adalah satu refleksi pribadi yang dipandang beliau dari masa lalu HMI, khsusnya sebelum perpecahan HMI dan warkop itu belum ada.

Untuk justifikasi saya yang kedua, saya belum memiliki data yang jelas soal itu. Sebenarnya saya juga risau dengan justifikasi ketiadaan itu. Sebab, dalam tulisan beliau kita akan menjumpai logika paradoks dari konsep ketiadaan itu. Justru dengan menarasikannya HMI sudah tiada dan sang Profesor mengatakan bahwa wajah HMI adalah keterpecahan dan di sekitaran warkop. Itu sudah memberikan justifikasi bahwa HMI itu masih ada.

Namun, keberadaanya dengan image yang berbeda. Hal inilah yang menggiring saya dengan melihat tulisan beliau sebagai teks yang sinis. Teks yang berjalan dalam negasi yang berulang dengan menemukan keberadaan HMI yang baru.

Dengan kata lain, teks yang sudah mengatakan HMI sudah tiada tetapi menegasikannya dengan penanda yang lain.

Akan tetapi, di lain hal saya menemukan wacana yang menarik dari tulisan beliau, yaitu “HMI adalah fatamorgana,… tipuan!”. Kalau dalam pandangan poststrukturalis, maka bahasa adalah tanda yang terjaring dengan tanda-tanda lain, akan tetapi ketika bahasa itu tertandai, maka tanda itu secara otomatis akan meninggalkan penanda sebelumnya.

Maka, implikasinya jangan-jangan benar HMI adalah fatamorgana yang selama ini menipu kita. Pandangan tersebut sejalan dengan respon Prof. Mustari Mustafa terhadap tulisan Prof. Qasim Mathar yang berjudul “HMI Banyak Tafsir” di kolom opini Fajar.

Dalam tulisan tersebut, Prof. Mustari memberikan tafsiran terhadap tulisan Prof. Qasim. Pertama, dengan membangun sebuah wacana “Ketiadaan HMI adalah persiapan menuju ke HMI yang baru. HMI yang berdasar atas tujuannya”.

Lalu, apa makna dari asumsi tersebut? Asumsi itu saya pahami adalah sebuah penandaan baru dari ketiadaan HMI yang dimaksud oleh Prof. Qasim.

Dengan kata lain, tulisan Prof. Mustari mencoba mengisi ambiguitas ketiadaan HMI yang dibangun oleh Prof. Qasim.

Hal tersebutlah yang diserukan oleh Prof. Mustari, kita mesti mengisinya dengan semangat atau spirit untuk memacu progresivitas HMI dalam berkontribusi untuk umat dan bangsa.

Akan tetapi, hal ini juga masih masuk dalam kategori pencaharian HMI yang sejati. Dalam artian, HMI masih seperti fatamorgana yang mesti dikejar untuk ditemukan eksistensi sejatinya. Agar HMI tidak benar-benar hilang dari peredaran.

Hilang dari peredaran artinya juga kata Himpunan Mahasiswa Islam lenyap secara ontologis, tidak dibicarakan, dan tidak ditekstualisasi atau dipraksiskan.

Jika saya memakai pandangan psikoanalisis, maka secara radikal mengatakan bahwa HMI adalah fantasi yang terus diwujudkan melalui penanda cita HMI.

Bagaimanapun caranya, apakah melalui melingkar di warkop dengan sejuta aktivitas atau dengan perpecahannya berimplikasi memperkuat untuk mencapainya. Akan tetapi, kita sebagai kader akan terus menemukan sebuah kenikmatan paradoks yang selalu mencari tahu kebenaran HMI sejati.

Ketika seorang kader telah merasa dirinya nikmat membicarakan kontestasi politik internal HMI di warkop lalu berhasil merebutnya. Toh, pada akhirnya kenikmatan kekuasaan malah menjauhkan kita dari tujuan HMI. Tentunya hal itulah yang membuat HMI menjadi subjek paradoks atas apa yang dicitakannya.

Meskipun demikian, banyak kader yang berbohong telah melaksanakan cita HMI, tetapi setidak-tidaknya itulah yang dapat menghidupkan eksistensi HMI.

Apapun citra atau imagenya, apakah melalui politik praktis HMI di Kongres atau Konfercab, pengaderan, berjuang dan lain sebagainya, HMI bakalan tetap ada dengan banyaknya keberadaan penanda apapun itu. Sekali lagi saya bersepakat dengan wacana Prof. Qasim, HMI adalah fatamorgana!.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here