Kabarnusantaranews,Banyuwangi;– Sampah telah menjadi permasalahan yang tak kunjung usai. Penanganan sampah yang baik dapat menjadi dambaan setiap tempat penampungan sampah.

Sampah yang paling umum dan sering dikenal biasanya terbagi menjadi 2 yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

Dengan semakin besarnya volume sampah-sampah tersebut, Mahasiswa KKN Pulang Kampung Universitas Negeri Malang di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah melakukan sebuah inovasi berupa pelatihan pemanfaatan sampah organik berupa limbah rumah tangga dan daun-daun kering sebagai pupuk kompos.

Selain itu, potensi kelangkaan atau kekurangan pupuk di tahun 2021 diprediksi masih cukup besar sehingga diharapkan adanya pelatihan ini nantinya akan mengantisipasi kelangkaan tersebut.

Mohammad Hilfi Azra Dzikrulloh, selaku penanggung Jawab kegiatan mengatakan, solusi dari permasalahan tersebut yang pertama ialah melakukan pemilahan sampah dari sumbernya seperti dari rumah yang kemudian dilakukan pengelolaannya.

“Kami rasa dengan adanya pelatihan pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk kompos ini, warga Desa Tamansuruh terkhusus Dusun Mondoluko dapat membuat pupuk kompos secara mandiri,” ujarnya, Selasa (22/6).

Lanjut dikatakan Hilfi, pelatihan pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk kompos dilakukan bagi kelompok tani (POKTAN) Dusun Mondoluko dan Karang Taruna Desa Tamansuruh.

“Kegiatan pelatihan ini dilakukan di rumah Bapak Rayis selaku ketua kelompok tani Dusun Mondoluko dengan tetap menjaga protokol kesehatan,” katanya.

Adapun isi acara pelatihan ini dimulai dari sosialisasi mengenai pengertian, jenis-jenis, dan bahaya adanya sampah, dilanjutkan dengan simulasi perakitan komposter yang digunakan sebagai tempat pengomposan.

Acara terakhir berupa pembuatan pupuk kompos yang berasal dari sampah organik limbah rumah tangga dan daun-daun kering dengan bantuan cairan campuran antara EM4, gula, dan air.

Sementara Ardy Septiyan Tri Wibowo selaku Koordinasi Desa KKN Pulang Kampung mengaku bahwa pelatihan ini memberikan manfaat yang besar bagi petani dan masyarakat.

“Pertama mengurangi jumlah sampah khusunya sampah rumah tangga, yang kedua mengembalikan unsur organik tanah yang sudah banyak tercemar, dan yang terakhir dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” jelasnya.

Pelatihan ini mendapat sambutan yang sangat baik dari peserta, itu terbukti dari antusias peserta yang terus bertanya kepada pemateri, bahkan setelah acara pelatihan tersebut selesai.

Selain itu, warga juga sangat antusias saat melakukan praktik pembuatan pupuk kompos. Sehingga diharapkan kedepannya, sampah organik yang digunakan bisa berasal dari kotoran sapi, hewan, dan ayam.

Hal ini diuangkapkan oleh Bapak Surur selaku Kepala Dusun Mondoluko dan Pembina Lapangan KKN. Menurutnya, selain menggunakan limbah rumah tangga dan daun-daun kering, juga dapat mengelola kotoran hewan sebagai bahan dasar pupuk organik.

“Saya berharap untuk kedepannya tim KKN ini dapat membantu dalam mengelola kotoran-kotoran hewan yang setiap harinya menghasilkan sebanyak 15 Kg kotoran hewan sebagai pupuk,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here