(OPINI) Amirullah Arsyad, KETUA UMUM GEMPA : Inggris-Amerika Dalang Konflik Israel Vs Palestina

Pernyataan Donald J trump, Presiden USA yang mendeklarasikan perpindahan
Ibukota Israel dari Tel aviv ke Yerussalem mendapat kecaman dari berbagai
negara termasuk Indonesia sebagai negara dengan islam terbesar di dunia.
Pernyataan Donald Trump sebenarnya hanyalah bagian dari janji politiknya
semasa Kampanye pencalonan Presiden USA Tahun 2016. Menilik Sejarah konflik
israel-Palestina sebenarnya sudah cukup se-abad, dimulai dari Deklarasi
Balfour yang tercatat dalam sejarah pada tahun 1917.

Berdasarkan hasil penelusuran penulis dalam pelbagai literatur Deklarasi
tersebut menyatakan bahwa “Pemerintahan Sri Baginda memandang positif
pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan
usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini,
karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang
dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas
non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang
dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya”.

Dekalarasi tersebut di motori oleh menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur
Balfour kepada Lord Walter Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi
Britania, untuk transmisi ke Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia.
Teks deklarasi tersebut diterbitkan dalam pers pada 9 November 1917.
Dekalarasi itu sebenarnya merupakan bagian dari pernyataan perang terhadap
Kekhalifaan Turki Utsmaniyah.

Deklarasi Balfour ini yang kemudian menjadi dasar legitimasi kelak berdirinya
israel sebagai suatu entitas negara yang berdaulat. Pada 14 Mei 1948, Israel
memproklamasikan kemerdekaannya, jadi perlawanan rakyat palestina jauh
sebelumnya melawan zionisme sebagai sebuah gerakan politik bukan melawan israel
sebagai sebuah negara atau yahudi sebagai sebuah agama. Pandangan tokoh zionisme
seperti Weizmann yang meyakini bahwa Inggris adalah untuk London seperti halnya
Yahudi untuk Yerusalem merupakan pemikiran yang mengarah kepada ekspansi
kolonialisme terhadap palestina sebagai sebuah negara. Sedikit informasi bahwa
Umat Muslim mencapai 16% dari total populasi Israel dan merupakan salah satu
agama minoritas terbesar di Israel.

Dari narasi tersebut, penulis menilai bahwa terdapat beberapa fakta sejarah yang
perlu diketahui oleh khalayak, bahwa Inggris memiliki andil besar terhadap bentuk
kolonialisme di tanah palestina dengan munculnya Israel sebagai sebuah negara
merdeka. Misi ini diusung oleh Zionisme yang bekerja untuk melayani pemerintahan
inggris. Amerika Serikat yang merupakan sekutu dari Inggris kemudian memberikan
dukungan yang sama untuk eksistensi gerakan Zionisme di Israel.

Jadi konflik Israel-Palestina bukanlah murni konflik agama “Islam vis a vis Yahudi”,
Konflik Kedaulatan “Israel Vis A vis Palestina, Melainkan konflik yang jauh lebih
universal antara Gerakan Politik Diaspora, Seperti Zionisme Vis A vis Antisemith.
Gerakan Zionisme modern sampai hari ini masih didalangi oleh aktor yang sama yaitu
Amerika dan Inggris. Dan perlawanan terhadap bentuk kolonialisme di Palestina adalah
perlawanan terhadap aktor dibalik konflik tersebut. “Save Palestina”.

(Oleh ; Amirullah Arsyad)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *