Kabarnusantaranews,Makassar;– PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Barat (Bank Sulselbar), menyatakan bahwa PPKM secara tidak langsung memberikan dampak pada kualitas kredit di Bank Sulselbar.

Hal ini ditunjukkan dengan posisi non performing loan (NPL) per Juli 201 mengalami kenaikan 0,02% dibandingkan Juni 2021.

“Posisi NPL bulan Juni 2021 berada di posisi 0,82% sedangkan per Juli 2021 mengalami kenaikan menjadi 0,84%,” ujar Direktur Utama Bank Sulselbar, Amri Mauraga seperti yang dilansir kontan.co.id, Selasa (31/8).

Menurut Amri, realisasi kredit di Bank Sulselbar masih on track sesuai dengan target rencana bisnis bank (RBB), sampai akhir tahun 2021 diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan sebesar 8-9% secara year on year (yoy).

“Bank Sulselbar memiliki captive market yang sangat besar di segmen kredit konsumer, dan merupakan penopang utama dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional. Di mana untuk menggerakkan sektor riil dibutuhkan peningkatan daya beli masyarakat, sedangkan untuk meningkatkan daya beli dapat dilakukan melalui pemberian kredit ke segmen konsumer,” ujar Amri.

Amri menekankan bahwa Bank Sulselbar berkomitmen menjaga penyaluran kredit ke segmen produktif secara berkelanjutan, yang dapat dilihat dari penetapan target untuk tahun ini.

Yakni target pertumbuhan kredit terbesar diproyeksikan akan berada di segmen kredit produktif (kredit investasi dan kredit modal kerja) dengan proyeksi pertumbuhan kredit produktif sebesar 17,5% yoy.

Sedangkan untuk kredit konsumtif ditargetkan tumbuh sebesar 5,5% yoy, sehingga Secara total portofolio kredit ditargetkan tetap mengalami tren positif pertumbuhan di angka 8-9%.

Per Juli 2021, sudah terdapat 742 debitur dengan total besaran Rp 573 miliar debitur di Bank Sulselbar yang telah dilakukan restrukturisasi Covid-19.

Untuk menjaga kualitas kredit tetap terjaga, Amri mengatakan bahwa Bank Sulselbar menerapkan inisiatif dan pengelolaan risiko yang efektif untuk menjaga kenaikan risiko NPL.

Selain itu, penyaluran kredit dan pembiayaan dilakukan dengan sangat selektif dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Langkah selanjutnya, Bank Sulselbar meningkatkan fungsi supervisi dan monitoring kredit dan melakukan pendampingan bagi para pelaku usaha.

Terakhir, Bank Sulselbar melakukan penagihan kredit secara intensif dan melakukan upaya-upaya penyelamatan dan penyelesaian kredit melalui pengambilan agunan, lelang agunan kredit, restrukturisasi kredit, dan hapus buku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here