Kabarnusantaranews,Gowa– Penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Gowa telah mencapai 90 persen yang tersebar di 18 kecamatan se-Kabupaten Gowa.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, Sugeng Priyanto saat dikonfirmasi, Kamis (26/11).

Ia mengatakan Subsidi sejumlah 31.500 ton ini diperuntukkan bagi masyarakat petani yang memiliki lahan dibawah 2 hektar.

“Jadi pupuk subsidi ini hanya diperuntukkan bagi yang berKTP petani, menggarap lahan dibawah 2 hektar dan terdaftar dalam eRDKK. Hingga tanggal 23 November kemarin kita telah menyalurkan 90 persen yang diperkirakan rampung desember nanti,” ugkapnya.

Terkait beredarnya kabar mengenani kekurangan pupuk kata Sugeng, hal itu kurang tepat karena rekomendasi dinas pertanian Gowa ke pusat sebanyak 40 ribu ton namun yang terealisasi 31.500 ton berdasarkan tolak ukur dari pusat.

Bahkan Sugeng mengaku alokasi pupuk subsidi di Gowa terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2019 lalu dimana pada tahun tersebut sebanyak 27.452 ton sedangkan tahun ini mencapai 31.500 ton yang artinya terjadi peningkatan kurang lebih 4000 ton.

“Kita sebenarnya mengalami peningkatan, tetapi memang rekomendasi kita 40.000 dan yang masuk pada syarat pusat dalam hal ini pertanian 31.500 itu. Salah satu tolak ukurnya yakni usulan, kebiasaan teknologi setempat dan kemampuan keuangan pusat dalam mensubsidi. Jadi jika dikatakan langka sebenarnya kurang tepat tapi karena ini pandemi dan ekonomi masyarakat sedang tidak stabil,” jelas Sugeng.

Selain itu, hal yang harus diperhatikan yakni terkait cara penggunaan pupuk bagi petani. Kadis Pertanian membeberkan kebanyakan masyarakat langsung menghamburnya ke lahan sehingga terjadi pemborosan, sehingga cara yang paling tepat pupuk di tugal atau ditanam agar kandungan nitrogen pada pupuk tidak terkena matahari langsung.

Tak hanya itu, takaran dalam menggunakan pupuk yang benar adalah dalam 1 hektar tanaman jagung hanya butuh 6 sak pupuk, sedangkan untuk padi 4 sak pupuk per herktar.

“Jadi misalnya dalam1 hektar jagung itu hanya butuh 6 sak pupuk untuk keseluruhan proses seperti pupuk dasar, pupuk susulan pertama dan pupuk susulan kedua masing-masing jeda 2 minggu sehingga pupuk tidak cepat habis dan digunakan secara tepat,” jelasnya.

Lebih jauh, permasalahan yang kerap terjadi dilapangan juga dipengaruhi banyaknya masyarakat yang ingin mengambil pupuk sekaligus, padahal karena penyaluran dari pusat dilakukan secara bertahap sehingga otomatis akan dilakukan secara bertahap juga di Kabupaten Gowa.

“Kita tidak langsung diberi sekaligus seperti tahap pertama 21.000 ton pada September, dan tahap kedua pada Oktober kemarin 10.500 ton. Itupun tidak langsung ke kita karena ada mekanisme penyaluran dari pusat yaitu dari Pupuk Indonesia (BUMN), lalu ke produsen dalam hal ini petro kimia dan pupuk kaltim, kemudian menunjuk distributor, dan terakhir pengecer yang tersebar pada 76 titik. Semua itu buka kita yang menunjuk. Tugas kami disini hanya melakukan pengawasan dan memberikan sosialisasi penggunaan di lapangan,” jelas Sugeng.

Adapun jenis pupuk subsidi ini yakni pupuk urea, ZA, SP-35 NPK dan pupuk organik. Dimana harga sebelum subsidi sebesar Rp 285 ribu per sak (50 kg) setelah tersubsidi petani membeli hanya Rp 90 ribu setiap saknya.

Ia berharap, masa pandemi ini bisa segera berakhir agar permasalahan yang terjadi khususnya dalam perekonomian bisa kembali normal sebelum terjadinya pandemi.(NH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here