Thursday, September 29, 2022
HomePEMUDA DAN MAHASISWAOpini: Renungan 74 Tahun HMI, Haruskah HMI Bubar?

Opini: Renungan 74 Tahun HMI, Haruskah HMI Bubar?

- Advertisement -

Kabarnusantaranews,Makassar;– Sirkulasi pergulatan identitas nasional didalam melihat format praksis realisasi kehidupan berbangsa dan bernegara, sejatinya kita sadar betul bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah tonggak sejarah revolusi mentalitas bangsa Indonesia.

Hal ini pada prinsipnya merupakan khittah perjuangan setiap kader, dimana realitas keberadaan HMI, tentu diyakini sebagai wadah atau laboratorium intelektual.

Didalam mengembangkan dan membuka ruang-ruang sosial terhadap pengembangan cita cita negara, sebagaimana platform perjuangannya yakni melihat persoalan kebangsaan dan keummatan.

Dalam konteks sejarah nasional, HMI mencoba memanggungkan Indonesia dengan berbagai tradisi serta aktualisasi perwujudannya, dihadapan publik Indonesia yang dalam gerakan perjuangannya mengakumulasikan semua komponen bangsa.

HMI sebagai organisasi perjuangan pada prinsipnya menjadi hal yang paling mendasar terhadap kerangka pemenuhan kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan semakin menguatnya persoalan transidentitas dan transkultural dalam beberapa kurun terakhir menjadi polemik di negeri ini.

Menyelusuri ruang kehidupan Himpunan Mahasiswa Islam dalam beberapa tahun terakhir. mengalami situasi paradoks, hal ini menggambarkan bahwa adanya kondisi dilematis sehingga menjadi tantangan kian membesar dewasa ini.

Dalam mereaktualisasikan marwah organisasi sebagaimana termaktub dalam konstitusi yakni konstruk independensi organisatoris dan independensi etis dalam setiap pergerakan kader HMI.

Sebagai organisasi keislaman dan kebangsaan, HMI perlu mengembangkan nilai-nilai kebenaran universal dalam menghadapi krisis moral ketika wawasan keumatan mulai menghilang dari setiap jejak langkah perjuangan kader.

Dalam ingatan kolektif bangsa kita tahu bahwa ketika seorang lafran pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam, ada harapan besar yang terpatri dalam wajahnya.

Sebab pada saat HMI di deklarasikkan adanya bentuk pengakuan bahwa sebagai kader umat dan kader bangsa HMI tidak menjadi underbouw sebuah partai politik maupun non praksis politik kekuasaan lainnya.

Ketika kita kembali membuka lembaran sejarah keberadaan HMI, wajar jika jenderal besar sudirman saat itu mengatakan bahwa, HMI sebagai harapan masyarakat Indonesia sebab dalam internal keberadaan HMI itu sendiri berhimpunnya pemikir-pemikir revolusioner dengan berbagai variasi keilmuan.

Dalam usianya yang ke-74 tahun ini, Himpunan Mahasiswa Islam mengalami hiruk pikuk yang sangat luar biasa. Hal ini yang kemudian coba di gugat dan di kritik oleh kanda Nurcholis Madjid yang mengatakan, bahwa bubarkan saja HMI, pernyataan yang cukup menggelitik pemikiran kita sebenarnya.

Sebab dalam tafsirannya Cak Nur, bahwa di usia yang sudah matang ini, HMI sudah saatnya memantapkan langkah dalam memobilisasi kader dalam mengejewantahkan mission HMI, bukan di sibukkan dengan godaan politik kekuasaan, apalagi Dualisme PB HMI yang kian merusak HMI secara Institusi.

Dalam manifestasi jalan lurus HMI, sejatinya sudah boncengi oleh kepentingan politik praksis. Kita tahu bahwa kejayaan HMI di dasarkan pada kulturnya yakni mengembangkan budaya membaca dan kajian yang menjadi telaah kritis dan pola konsumtif kader HMI.

Melihat gerakan HMI kekinian terlalu euforia dengan bergaining struktural mungkin kerena hampir sebagian besar pejabat negara ini alumni HMI sehingga kebanggaan ini membuat HMI terlalu dekat dengan kepentingan politik kekuasaan.

Himpunan sudah tidak lagi sebagai wadah/ruang transaksi dan transformasi gagasan melainkan merupakan produk transaksi kekuasaan. Sehingga mengnihilasi ruangan independensi HMI.

Kita tahu bahwa prinsip non praktis politis bukan berarti menggambarkan bahwa HMI buta akan politik melainkan adanya bentuk pengakuan bahwa sikap independensi menjadi kekuatan moral dalam melihat dan menggugat persoalan keumatan dan kebangsaan. Sehingga HMI tidak melindungi kepentingan elit kekuasaan secara sepihak.

Dalam situasi seperti ini mengindikasikan, bahwa budaya konsumtif struktur politik kader semakin marak-maraknya di pelihara dan menggurita.

Sehingga memberikan ruang terhadap pola komando yang kaku, misalnya dalam beberapa temuan kasus arahan kanda, perintah kanda, merapat ke kantor/instansi A, B, dan berbagai prototipe lainnya yang memberikan kecenderungan terhadap pola ketergantungan kader kepada institusi politik maupun para birokrat dalam menjadikan HMI sebagai instrumen politik.

Ada semacam badai politik besar yang kian menghancurkan Himpunan Mahasiswa Islam. HMI bukanlah organisasi massa yang harus bertengker dan bertarung dipanggung kepentingan publik terhadap upaya pemenuhan syahwat politik.

Secara esensial HMI adalah organisasi kemahasiswaan dengan berjubel komitmen, yang bergerak dalam khittah perjuangan dalam mengembangkan dengan satu tujuan yaitu “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT”.

Oleh: Syaf Lessy (Wakil Bendahara Umum PB HMI)

- Advertisement -



RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -







Most Popular

Recent Comments