Friday, August 19, 2022
HomeOPINIMerawat Pancasila, Meneguhkan Solidaritas: From Diza to Indonesia

Merawat Pancasila, Meneguhkan Solidaritas: From Diza to Indonesia

- Advertisement -

Kabar Nusantara News, MAKASSAR — Beberapa hari ini, patriot bangsa lintas generasi di Sulsel yang terlembagakan dan terikat pada hubungan emosional yang sangat erat, plus dedikasi yang kuat untuk bangsa di organisasi bernama Majelis Pengurus Wilayah Pemuda Pancasila Sulsel, penuh hikmat tanpa riak telah melaksanakan hajatan periodik kelembagaan mereka.

Struktural lama telah berhasil menggenggam dan mendayagunakan segenap potensi mereka dalam menyelesaikan periodesasi berdasarkan amanah SK yang diterimanya beberapa tahun lalu.

Yang pernah berorganisasi pasti sangat paham. Bahwa menyelesaikan sebuah periodesasi kepengurusan itu bukanlah hal yang mudah. Sebab ini persoalan mentalitas personal bagi yang termaktub namanya dalam salinan Surat Keputusan komposisi pengurus, perihal komitmennya aktif dan turut membesarkan organisasi.

Pemuda Pancasila ini adalah salah satu organisasi di Indonesia yang dalam kacamata saya punya kemampuan membina solidaritas. Dimana struktur-struktur hierarki kelembagaannya berhasil merintis silaturahmi antar anggota dengan baik. Mereka punya kemampuan membaur dalam berbagai lapisan kelas sosial.

Menariknya, mereka juga masih tetap memperhatikan masalah-masalah keadilan, distribusi kesejahteraan, kejujuran politik, rakyat miskin serta gerakan kemanusiaan di setiap daerah yang tertimpa bencana. Dan kesemuanya itu bisa konsisten berjalan dalam beberapa dekade dibawah kepemimpinan dan sentuhan tangan dingin seorang St. Diza Rasyid Ali.

Sosok perempuan tangguh ini ibarat intervensi kosmos yang dihadirkan ke bumi Celebes dalam upaya menjaga stabilitas kontinuitas distribusi kader berkualitas Pemuda Pancasila diberbagai lembaga eksternal, baik di lembaga pemerintahan, hingga lembaga sosial kemasyarakatan lainnya.

Menahkodai organisasi sekelas MPW Pemuda Pancasila Sulsel ini bukanlah hal yang mudah. Membaurnya berbagai karakter, latar belakang aktivitas serta tingkat ekonomi pada level pendapatan keseharian, membuat organisasi ini menjadi sangat berpeluang oleng ditengah jalan jika berada di tangan figur yang kurang pas. Dan St. Diza Rasyid Ali telah mampu merubah mindset kelembagaan organisasi ini di Sulawesi Selatan bahkan di Indonesia.

Kemampuan meramu dan menciptakan ruang akselarasi para kader di PP dalam beberapa dekade terakhir ini, mampu membuat organisasi ini tetap bisa eksis dan nyaris tak kehilangan ritme energik dan performa berkarakternya walau jaman terus berubah.

Kemampuannya menjaga originalitas DNA Pemuda Pancasila hingga hari ini patut diacungi jempol. Kualitas mumpuni ini juga ditularkan kepada siapapun yang bernaung di dalam organisasi ini dengan tingkat presisi cukup lumayan.

Hemat saya, itulah kelebihan dari seorang Diza Ali yang harus dimiliki oleh para generasi muda kita sekarang ini. Dia mampu mencetak Kader-kader berkualitas yang dalam keberhasilannya justru membuat kader tersebut makin erat dengan organisasi ini.

Padahal diluar sana, acapkali sesuatu yang ironi sering terjadi. Yakni organisasinya telah membesarkannya dan saat itu pula dia justru semakin menjauh dari organisasi tersebut. Inikan semacam kader durhaka bin maling kundang namanya.

Dinamisasi Internal Organisasi
Salah satu almanak bahwa organisasi tersebut akan mengalami kemunduran secara drastis adalah jika dinamisasi dalam bentuk pro dan kontra di internal organisasi tidak pernah terjadi.

Jika salah satu di dalamnya lebih dominan maka hal itu pun juga tetap menandakan ketaknormalan di internal kelembagaan tersebut. Pro dan kontra adalah sinyalemen sehatnya suatu organisasi.

Adanya arus selentingan suara yang muncul dari luar, bahwa seorang St. Diza Rasyid Ali telah gagal dalam melahirkan penggantinya, sehingga dia yang harus terus memegang organisasi ini secara terus menerus tanpa ada satupun suksesor yang siap menjabat posisi ketua MPW.

Dalam pendekatan terpisah, hal tersebut adalah paradigma berfikir kasuistik yang tak boleh dipaksakan berlaku sama disemua organisasi. Kaderisasi dianggap diskontinyu saat mesin pencetaknya tak kunjung menghasilkan kader baru. Di Pemuda Pancasila se-Sulsel justru Kader-kader baru terus bermunculan. Tak cuma kualitas mereka yang tak pernah diragukan. Namun aspek etik mereka dalam basis kearifan lokal “Sipakatau, Sipakainga, Sipakalabbirik” mampu terimplementasi dalam gerak organisasi ini.

Kualitas mumpuni serta jasa seorang St. Diza Rasyid Ali yang membuat para kader tetap memegang erat aspek sipakalabbirik (saling menghormati dan memuliakan) khususnya bagi wanita yang cukup berjasa ini masih mereka junjung. Bahwa hasrat memimpin dan menggantikan, dan aspek suasana kepemimpinan baru harus tetap lebih mendahulukan unsur “Sipakalabbirik/Sipakalebbi”, sehingga kehadiran dan kesiapannya kembali memimpin terus mengalir dilintas kader.

Wanita tangguh ini telah menjelma dalam berbagai dimensi, sebagai Top Leader, Saudara, sahabat dan bahkan sebagai seorang ibu bagi Kader-kader baru yang membutuhkan sentuhan berkarakternya. Alasan ini yang kemungkinan besar membuat para kader akan terus mengaharapkannya berada di posisi multi dimensi ini.

Organisasi ini juga bukan berarti luput dari persoalan dan dinamika kelembagaan dengan tensi tinggi. Namun justru komplesksitas persoalan itulah yang membuat organisasi ini tetap menjadi rebutan kaum muda untuk menjadi bahagian di dalamnya.

Pola kaderisasi dari tingkatan Pelajar-Mahasiswa, Sarjana, Pengusaha, dan kelompok kaum hawa menjadi penyumbang terbesar organisasi ini sehingga masih eksis mengiringi perputaran masa dan pergantian era.

Ini menjadi angin segar bagi bangsa ini kedepan. Setidaknya Sulawesi Selatan tak usah risau pada kaum mudanya akan kondisi minim pada jiwa dan semangat berpancasilanya. Pemuda Pancasila Sulawesi Selatan perlahan namun pasti telah mampu mengokohkan pondasi yang kuat akan kecintaan terhadap dasar negara ini dilintas generasi pada level propinsi.

Bukan hanya dari pola kaderisasi maupun giat langsung berinteraksi dengan masyarakat dalam berbagai momentum dan situasi. Bahkan cukup menyebut namanya saja, kita akan kembali teringat bahwa Pancasila adalah warisan para pendiri bangsa kita yang harus selalu kita jaga dan rawat dalam berbagai kondisi.

Dalam jangka panjang, ini akan sangat berefek untuk melahirkan para patriot bangsa. Ketenangan dan sentuhan ketua MPW yang baru kembali terpilih ini tetap membuat kita optimis bagaimana Sulsel akan menjadi salah satu penyumbang terbesar Kader-kader terbaik, para calon patriot bangsa dan para calon pemimpin di negeri ini dan MPW Pemuda Pancasila Sulsel menjadi salah satu pendistribusi terbesar didalamnya.

Dan pada akhirnya, bangsa ini tetap optimis oleh karena berlimpahnya stok SDM terbaik dalam membawa bangsa ini menuju panggung peradaban dunia, dan itu adalah bahagian ikhtiar terbaik, From Diza to Indonesia!

Oleh: Anshar Aminullah (Sosiolog, Akademisi)

- Advertisement -


RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -







Most Popular

Recent Comments