Kabarnusantaranews,Makassar;– Gerakan Mahasiswa Kalukku (Gema Kalukku) menggelar Bazar dan Diskusi di Warkop Mau.Co Coffe, Jl. Tun Abdul Razak, Makassar, Minggu (11/4).

Kegiatan yang mengangkat tema “Eksistensi Kaum Muda Dalam Menghadapi Hegemoni Global” ini dihadiri oleh beberapa organisasi daerah ditingkat mahasiswa, yakni HMO sulbar, Hima Mateng, Ikma Budongbudong dan KER Organization.

Ketua Umum Gema Kalukku, Andika Firdaus saat dikonfirmasi menjelaskan, kegiatan diskusi ini dilatar belakangi oleh pandangan dari teman-teman Gema Kalukku.

Bahwa hal ini perlu menjadi diskursus bersama karna hegemoni global di pandang sedikit meredupkan kemerdekaan dalam berpikir dari laju arus global yang mendegradasikan pemikiran kaum muda.

“Perlunya diskusi ini karena melihat surutnya spirit pemuda serta lajunya hegemoni global yang nanti nya tak mampu melakukan persaingan intelektual secara global,” tandas Andito sapaan karibnya.

Dikesempatan yang sama, Wawan Gifari Tanasale sebagai narasumber pertama banyak membicarakan tentang history kaum pemuda terdahulu, pembahasan tersebut menegaskan kaum muda mesti banyak kembali menjelajahi catatan-catatan sejarah kemerdekaan.

“Karena bagaimanapun tanpa perjuangan para pemuda terdahulu maka tak ada yang namanya indonesia dan generasi saat ini. Kemudian kesadaran akan sejarah itulah yg mengaktifkan nalar kritis kita untuk tetap survival dalam menghadapi setiap dominasi dan hegemoni globalisasi serta modernisasi,” bebernya.

Sementara, Ramli Leuwayan sebagai narasumber kedua memaparkan, bagaimana membangun kesadaran di era hegemoni global yang lebih menitikberatkan pada penyaringan terhadap diri pribadi.

Dengan demikian, agar mampu lebih berpikir kritis mengembangkan analisis sebagai pengejawantahan eksistensi kaum muda.

“Perkembangan peradaban atau arus dari globalisasi itu adalah sebuah keniscayaan. Namun tentunya kita harus menyiapkan diri dalam setiap tantangannya, agar hegemoni dari globalisasi itu bisa di redah terkhusus oleh kalangan kaum muda sebagai tonggak generasi penerus bangsa,” jelasnya.

M. Syahwal Amrizal yang bertindak sebagai moderator menegaskan, bahwa dengan problematika yang terjadi hari ini perlunya kita kembali pada pembumian akan budaya literasi.

“Dengan kembali ke esensialnya, dalam hal ini gerakan literasi ada 5 pilar yang perlu di perhatikan dalam mewujudkannya, pertama manusia harus kembali pada fitrahnya yang hanif (cenderung pada kebenaran) kedua faktor keturunan ada dua aspek yaitu ideologis dan genetis, bagaimana kiranya agar kita mampu mendidik anak 20 tahun sebelum anak itu lahir,” terangnya.

Ketiga, lanjut Ari sapaanya, terkait pendidikan bagaimana penerapan pendidikan itu bukan hanya sebagai transformasi pengetahuan namun lebih menekankan untuk mendidik, yang ke empat ialah kebiasaan dalam hal ini membiasakan diri untuk keseringan membaca.

“Terakhir yang kelima mengenai lingkungan, bagaimana agar kiranya kita selalu dalam lingkungan literasi atau menciptakan lingkungan literasi itu sendiri jika hal demikian tidak ada dalam lingkungan kita,” demikian Ari menandaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here