Kabarnusantaranews,Jakarta;– Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai, tuduhan yang dilayangkan Fernando Emas terhadap Silmy Karim dan Krakatau Steel adalah keliru dan tendensius. Menurutnya, tuduhan tersebut sama sekali tidak mencerminkan ‘isi kepala’ seorang dosen yang berkualitas.

“Pertama, yang mengeluarkan ijin impor baja adalah Kementerian Perdagangan, tapi yang disalahkan Direktur Utama Krakatau Steel yakni Silmy Karim. Banjir baja impor ini justru merugikan Krakatau Steel. Makanya Silmy Karim berkali-kali meminta Pemerintah untuk memperketat ijin impor dan memberikan perlindungan untuk industri baja nasional,” ujar R Haidar Alwi, Rabu (6/10/2021).

Kedua, lanjut dia, utang Rp 31 triliun dan proyek mangkrak ‘Blast Furnace’ merupakan warisan manajemen masa lalu Krakatau Steel.

“Lagi-lagi yang disalahkan juga Silmy Karim. Inikan keliru, ngawur dan ngaco. Padahal sebelum Silmy Karim masuk Krakatau Steel, utang dan proyek mangkrak itu sudah ada. Malahan Silmy Karim yang berhasil merestrukturisasi utang dan membuat proyek mangkrak tersebut sempat beroperasi. Bahkan, di era Silmy Karim juga Krakatau Steel yang tadinya merugi selama 8 tahun berturut-turut menjadi untung Rp 609 miliar di tahun 2020,” papar R Haidar Alwi.

Menurutnya, penilaian tersebut dapat memberikan reputasi buruk terhadap Silmy Karim dan Krakatau Steel karena dipublikasikan di sejumlah media.

Oleh karena itu, ia meminta Fernando Emas untuk melakukan kajian maupun analisa mendalam sebelum melontarkan sebuah penilaian. Terutama, jika permasalahan itu berada di luar kapasitas, pengalaman dan ilmu yang ditekuninya.

“Jadi ke depan mohon agar lebih hati-hati lagi menyampaikan penilaian di ruang publik. Apalagi Fernando Emas ini kabarnya seorang dosen juga, tapi pernyataannya kok tidak mencerminkan ‘isi kepala’ seorang dosen yang berkualitas. Mudah-mudahan serangannya kepada Silmy Karim bukan pesanan dari orang yang mengincar posisi Dirut Krakatau Steel dan bukan disponsori mafia impor atau koruptor yang lahannya terganggu akibat keberadaan Silmy Karim,” pungkasnya.

Pofil Fernando Emas

Dikutip dari berbagai sumber, Fernando Emas yang memiliki nama asli Fernando Ersento Maraden Sitorus ini lahir pada tanggal 6 November 1978 di Kanopan Ulu, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.

Ia merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (S1) Universitas Atma Jaya Yogyakarta tahun 2006 dan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (S2) Universitas Indonesia tahun 2009.

Fernando Emas menikah dengan seorang wanita yang bernama Ivo Yunike Sariani dan telah dikaruniai setidaknya dua orang anak. Pria dengan alamat KTP Kramat Sentiong, Senen, Jakarta Pusat itu pernah bekerja sebagai Advokat Senior di Fraser Romula Sitorus & Associates.

Dalam laman LinkedIn-nya, ia juga pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI, Office Manager PT Prima Perkasa Lestari, Redaktur Pelaksana sebuah media online dan seorang guru di Univer Consulting.

Pada Pemilu 2014 silam, Fernando Emas pernah manjadi calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Amanar Nasional untuk daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara II. Kemudian pada Pemilu 2019, Fernando Emas menjadi caleg Partai Demokrat untuk dapil Papua.

Belum lama ini, ia juga mencalonkan diri sebagai Dewan Pengawas RRI periode 2021-2026. Akan tetapi dalam mengincar ketiga jabatan itu semuanya menemui kegagalan.

Fernando Emas juga berstatus sebagai Dosen Tetap Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. Ia kerap tampil di media sebagai Pengamat Kebijakan Publik dan Direktur Rumah Politik Indonesia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here