Kabar Nusantara News;- Dunia pendidikan Indonesia harus terus berbenah untuk menyiapkan generasi bangsa yang berbekal pada nilai moral, intelektual dan kapasitas. Namun demikian,untuk mewujudkan tujuan-tujuan mulia tersebut, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin tidak ringan.Makassar (02/05/2018)

Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Makassar “Ashari Bahar”Setidaknya ada tiga hal yang mengancam intitusi Pendidikan Indonesia dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini.

Pertama,ancaman narkoba. Menurutnya,pendidikan memiliki peranan dalam mengatasi penyalahgunaan narkoba.Ironinya, menurut data Puslitkes UI dan BNN (2016), terdapat sekitar 27,32% pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kedua, kekerasan di institusi pendidikan. Akhir-akhir ini kalangan masyarakat sangat prihatin dengan adanya berbagai informasi, pemberitaan,tontonan video yang disebarkan secara berantai melalui jaringan media social.Kekerasan fisik maupun kekerasan mental ini sudah menjangkit ke pihak-pihak utama dalam institusi pendidikan, baik perorangan maupun kelompok.

“Kekerasan sudah dilakukan oleh antar anak murid, murid kepada guru atau sebaliknya guru kepada murid, orangtua murid dengan anak maupun guru. Ini sudah menunjukkan bahwa pendidikan kita sudah darurat akan kekerasan,”jelasnya.

Ketiga,Soal krisis kebangsaan.Pada survei Alvara Research Center (2018) yang kita ketahui bersama bahwa sebagian milenial atau generasi kelahiran akhir 1980-an dan awal 1990-an, setuju pada konsep khilafah sebagai bentuk negara. Survei dilakukan terhadap 4.200 milenial (1.800 mahasiswa dan 2.400 pelajar SMA di Indonesia).

Mayoritas milenial memang memilih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Namun ada 17,8% mahasiswa dan 18,4% pelajar yang setuju khilafah sebagai bentuk negara ideal sebuah negara.

Kondisi ini masih ditambah survei di tahun sebelumnya, di mana survei BIN tahun 2017 memperoleh data bahwa 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam. Menurutnya, angka-angka persentase pelajar dan mahasiswa memang sebagian kecil dari keseluruhan, namun tidak boleh dibaca jumlah yang kecil. Sebab, baik narkoba, kekerasan dan paham anti kebangsaan Indonesia telah berkembang sangat signifikan.

“Kita semua tidak ingin generasi Indonesia yang akan datang adalah generasi yang tidak memiliki kepasitas mumpuni untuk menyiapkan diri menghadapi berbagai perubahan yang cepat dan gagap dalam menjaga keutuhan bangsa, Menurut Saya ketiga Hal diatas adalah PR besar buat Pemerintah saat ini, Oleh sebab itu Pemerintah dan Pelajar/Mahasiswa saat ini harus saling bersinergi dan bersama-sama saling berbenah untuk terciptanya tatanan dunia pendidikan yang lebih baik.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here