Kabar Nusaantara News;- Kerusuhan Mei 1998,menjelang Presiden Soeharo lengser, berupa amuk massa, pembakaran, dan penjarahan,siswi SMA Ita Martadinata diperkosa, lalu dibunuh sehari menjelang pergi ke markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York untuk memberikan testimoni.Nasional (16/05/2018)

Relawan Anti-kekerasan terhadap Perempuan, yang juga Direktur Kalyanamitra, Ita Fatia Nadia, menceritakan kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Ita Martadinata. Bersama relawan untuk kemanusiaan Romo Sandyawan,Ita Fatia Nadia mendampingi Ita Martadinata pasca-pemerkosaan.

Ita Marthadinata adalah siswi SMA saat itu, berusia 18 tahun,dari keluarga etnis Tionghoa,dan beragama Buddha.

Wiwin,ibunda Ita Martadinata, yang merupakan aktivis Buddhis, tidak tinggal diam atas kasus yang dialami putrinya.Pihak keluarga akan menyampaikan testimoni.

Menurut Ita Fatia Nadia,dirinya juga memberikan pengarahan apa saja yang akan dilakukan pada saat memberikan testimoni di PBB.

“Kami berikan choaching,” kata Ita F Nadia. Namun,sehari menjelang berangkat ke New York, Ita ditelepon oleh tetangga Wiwin,yang mengatakan bahwa Ita Martadinata meninggal.

Romo Sandyawan juga menerima kabar buruk itu.

“Saya waktu itu bersama wartawan Tempo,Iwan Setyawan,di Institut Sosial, ditelepon oleh Bu Wiwin, yang mengatakan Ita Martadinata meninggal,”tutur Sandyawan.

Sandyawan pun segera ke rumah keluarga Wiwin. Ia menyaksikan dinding menuju lantai dua berceceran darah.

Di kamar,jenazah Ita Martadinata dalam kondisi sangat memprihatinkan. “Jenazah Ita Martadinata telanjang, lehernya hampir putus,” kata Sandyawan.

Sementara itu,Ita Fatia Nadia juga menyaksikan kondisi mayat Ita Martadinata berceceran darah, dengan leher hampir putus, dan di duburnya ada kayu.

Sumber : Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here